Aktris Hollywood ternama, Scarlett Johansson, baru-baru ini terlibat dalam perselisihan dengan perusahaan kecerdasan buatan OpenAI terkait fitur suara “Sky” di ChatGPT 4.0. Johansson menuding OpenAI menggunakan suaranya tanpa persetujuannya, dan ia pun mengambil langkah hukum untuk menyelesaikan masalah ini.

Berikut beberapa alasan mengapa Scarlett Johansson enggan suaranya digunakan di ChatGPT:

1. Persetujuan dan Kontrol:

Johansson menyatakan bahwa ia menolak tawaran OpenAI untuk menjadi pengisi suara “Sky” karena ingin memiliki kontrol atas bagaimana suaranya digunakan. Ia ingin menyetujui secara eksplisit bagaimana suaranya diubah dan dimanipulasi, dan untuk tujuan apa.

2. Kemiripan Suara yang Membingungkan:

Meskipun OpenAI mengklaim bahwa suara “Sky” tidak ditiru dari Johansson, banyak orang, termasuk teman dan keluarga dekatnya, merasa suaranya sangat mirip dengan suara aktris tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penyalahgunaan suaranya dan kemungkinan hilangnya identitasnya.

3. Kekhawatiran Etika dan Privasi:

Penggunaan suara seseorang tanpa persetujuan mereka menimbulkan pertanyaan etika dan privasi yang serius. Johansson, sebagai figur publik, memiliki kekhawatiran tentang bagaimana suaranya dapat digunakan untuk memanipulasi atau menipu orang lain. Ia juga ingin memastikan bahwa privasi data suaranya dilindungi.

4. Kehilangan Peluang Komersial:

Johansson memiliki hak atas suaranya dan ia dapat menggunakannya untuk tujuan komersial, seperti dalam iklan atau endorsement. Jika suaranya digunakan tanpa persetujuannya di produk lain, seperti ChatGPT, hal ini dapat berakibat pada hilangnya peluang pendapatan baginya.

5. Preseden untuk Penggunaan Suara Masa Depan:

Kasus ini menjadi preseden penting untuk bagaimana suara manusia digunakan dalam teknologi kecerdasan buatan. Johansson ingin memastikan bahwa suaranya dan suara orang lain tidak dieksploitasi tanpa persetujuan dan kontrol yang tepat.

Perseteruan antara Johansson dan OpenAI masih berlangsung, dan belum ada keputusan final yang diambil. Kasus ini menjadi sorotan penting tentang isu-isu etika dan privasi yang terkait dengan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dan bagaimana suara manusia diperlakukan di era digital.

Sumber: